
Pemerintah Kabupaten Demak melalui Dinas Lingkungan Hidup memprogramkan pelatihan pengelolaan sampah berbasis komunitas di lingkungan pondok pesantren, salah satunya berlangsung di Ponpes Futuhiyyah, Mranggen. Kamis (22/08/2024).
Hal tersebut karena produktivitas sampah yang terus bertambah dan kecilnya kapasitas tempat pembuangan sampah di lingkungan pesantren menjadi keluhan sejumlah pondok pesantren di Kabupaten Demak.
Kegiatan yang diikuti ratusan santri dari sejumlah pesantren tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Demak Eisti’anah. Pada Pelatihan itu santri dilatih proses pemilahan jenis sampah, daur ulang, hingga pengolahan dan pemanfaatannya.
Sampah dapat diolah menjadi kompos. Selain itu dapat juga menjadi budidaya maggot atau belitung yang menjadi sumber protein sangat baik untuk pakan unggas dan ikan.
Adapun sampah anorganik dipilah berdasarkan jenisnya dan dapat dijual kepada pengepul atau diolah sendiri menjadi aneka kerajinan.

“Metode yang diterapkan dalam pelatihan ini adalah sistem pilah, pilih dan olah (PPO), dimana sampah organik dan non-organik dipilah,” terang Bupati Eisti dalam sambutannya.
Selama ini, persoalan sampah yang menumpuk sering menjadi keluhan pondok pesantren, terlebih di pesantren yang memiliki ribuan santri. Sementara belum banyak di antara mereka yang melakukan pengelolaan sampah secara mandiri.
“Kegiatan ini sebenarnya sebagai respons atas masukan sejumlah pesantren, produksi sampah besar tetapi belum terkelola secara baik,” ucapnya.
Diakui, jumlah sampah yang terus bertambah setiap hari menjadi persoalan yang harus ditangani secara berkelanjutan. Di wilayah Kecamatan Mranggenm sendiri produksi sampah tak lagi mampu ditampung oleh TPA, sehingga memerlukan solusi ramah lingkungan.
“Maka melalui program pelatihan pengolahan sampah yang diadakan di pesantren diharapkan mendorong inisiatif para santri agar dapat mengelola dan mengolah sampah secara mandiri di lingkungan pesantren,” pungkasnya.
Di Kabupaten Demak saat ini memiliki tiga Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, yakni di Candisari Mranggen, Kalikondang dan Berahan Kulon, dan sebagian TPA sudah overload yang didominasi berupa timbunan sampah plastik
Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Muhammad Ridhodhin menyampaikan, program pelatihan pengelolaan sampah yang menyasar komunitas pesantren menjadi solusi bagi pesantren dalam mengatasi produktivitas sampah
Kegiatan tersebut digelar secara maratan di 14 Kecamatan yang melibatkan seluruh pesantren di wilayah masing-masing kecamatan. Sebelumnya kegiatan ini juga dilangsungkan di Ponpes Manba’ul Ulum, kecamatan Wedung.
“Tindaklanjutnya adalah adanya bank sampah di tiap-tiap pesantren,” imbuhnya.
Pengelolaan Sampah bagi pesantren, menurut Pengasuh Ponpes Futuhiyyah, Gus Helmi Wafa, merupakan bagian dari menjaga kebersihan sebagaimana diajarkan dalam islam.
“Dengan sampah yang terkelola secara baik, maka lingkungan pesantren akan terjaga kebersihannya dan dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitar,” ucapnya. (Prokompim)

.
