
Musim kemarau panjang mengakibatkan Desa-desa di Kabupaten Demak mengalami kekeringan. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Demak, saat ini ada 109 desa di 13 kecamatan yang mengalami krisis air bersih. Namun, baru 66 desa yang tertangani.
Melihat situasi itu, Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E. melalui BPBD dengan memaksimalkan bantuan dropping air ke wilayah terdampak, baik dari Pemerintah Kabupaten (pemkab) maupun Corporate Social Responsibility (CSR).
“Kami harapkan ini kerja sama semuanya, sehingga masyarakat bisa mendapatkan bantuan air bersih,” katanya saat memberikan bantuan air di Desa Raji, Kecamatan/Kabupaten Demak, Jumat (22/09/2023).
Menurutnya, kekeringan di Demak diperparah karena adanya fenomena El Nino dan sumber air masyarakat melalui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang tercemar air laut setelah jebolnya Bendung Karet Kalijajar.
“Ke depannya kami minta PDAM untuk membuat tampungan sendiri yang luas, sehingga jika ada seperti ini tidak terulang kembali,” paparnya.
Sebagai langkah antisipasi kekeringan di Demak, saat ini pihaknya sedang dalam masa pengkajian mengenai pemanfaatan sumur artesis di desa-desa. Sebab, terdapat tempat yang tidak memungkinkan untuk menggunakan cara tersebut.
“Sebenarnya program kita dengan pamsimas sudah dibuatkan, tetapi belum mencakup semuanya. Kita evaluasi, ketika menggunakan pamsimas, alhamdulillah tidak ada kendala air bersih,” paparnya.
Sementara di wilayah zona merah, lanjut Bupati Eisti, pihaknya akan mengoptimalkan penyaluran air lewat PDAM, terutama di kecamatan Sayung, Karangtengah, dan Bonang.
“Kita usahakan dari PDAM menambah jaringan baru. Ini sedang dalam pengkajian, semoga tahun 2024 sudah mulai disalurkan,” pungkasnya. (Prokompim).

