Bupati Demak Hadiri Harlah Pendiri Pondok Pesantren Alfattah Demak

Teruslah belajar, tingkatkan kualitas agar menjadi santri yang berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Demikian yang diungkapkan Bupati Demak, dr. Hj. Eisti’anah, S.E dalam sambutannya saat menghadiri Pengajian Umum Dalam Rangka Khotmil Qur’an dan Haul Pendiri Pondok Pesantren Al Fattah Demak KH. Abdullah Zaini bin Uzair, KH. Cholil Abdurrozzaq, serta Masyayikh Pondok Pesantren Al-Fattah Demak. Kamis, (12/05/2022) Bertempat di Pondok Pesantren Alfattaah Demak.

“Pada kesempatan ini saya sampaikan apresiasi terhadap berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan Pondok Pesantren Al Fattaah. Pembinaan rohani Islam yang sarat nilai-nilai moral dengan pengembangan nilai-nilai Al-Qur’an telah terbukti mampu memberikan sumbangsih besar bagi kemajuan Kabupaten Demak,” ungkapnya.

Menurutnya, dengan digelarnya haul ini semoga bisa diambil hikmah tentang perlunya meneladani amalan almaghfurlah yang berperilaku akhlakul karimah. Tentunya amalan sebagai seorang khalifah Allah yang selalu mengedepankan nilai-nilai keimanan, ketaqwaan, kejujuran, kesederhanaan, dan keilmuannya.

“Semoga lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dikumandangkan melalui tahlil dan do’a, dapat melapangkan jalan lurus Almaghfurlah di alam keabadiannya, diberkahi segala amalan baiknya, dan diampuni segala kekhilafannya. Aamiin,” pungkasnya.

Pada kesempatan tersebut KH Ahmad Mustofa Bisri menyampaikan, sebutan sholih bagi setiap orang berbeda. Artinya seorang bupati yang sholih tidak harus bupati yang tekun mengaji dan hafal Al Qur’an, melainkan bupati yang mampu memimpin dengan adil dan bijaksana.

Begitu pun dengan sholihnya polisi. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu, kalau kiai yang sholih itu tidak boleh su’udzon, sebaliknya jika polisi harus selalu su’udzon pada orang-orang yang dicurigai melanggar hukum.

“Sebab jika semua polisi itu selalu khusnudzon atau berbaik sangka, maka para koruptor atau pelaku kriminal lainnya akan santai saja melanggar hukum. Maka itu lah, sholihnya bupati beda dengan sholihnya polisi ataupun kiai. Sebab sholih berhubungan dengan kepatutan (tanggungjawab) seseorang,” ungkap Gus Mus, demikian KH Ahmad Mustofa Bisri biasa disapa.

Jadi, lanjutnya, bupati menjadi kurang pas jika setiap harinya khataman Qur’an. Karena ada tugas yang lebih penting yakni memimpin dengan sikap adil. Polisi pun demikian utamakan menjalankan tugas mengamankan negara, dan tidak perlu terus-menerus wiridan. Artinya bekerjalah sesuai fungsi dan tanggungjawabnya, sehingga memberi manfaat pada sesama.

Demikian pula dengan santri, sholihnya mereka yang ngaji hingga khatam Qur’an. Namun menurut Gus Mus, tak cukup bercita-cita hapal Qur’an saja, harus dipahami pula artinya dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Maka itu lah sering kali Khotmil Qur’an dibarengkan dengan Haul Masyayikh. Alasannya, karena kiai setiap hari berkutat dengan Al-Qur’an. Begitu pun kesehariannya berpedoman pada Al-Qur’an. Sebagaimana Rasulullah SAW, saat menerima wahyu Al-Qur’an dari Malaikat Jibril.

Hadir pada acara yang digelar rutin tahunan Pondok Pesantren Alfattaah asuhan KH Arief Cholil itu, Bupati Demak dr Hj Eisti’anah, SE, Wabup KH Ali Makhsun, M.S.I., serta mantan Wabup Demak di KH Muhammad Asyiq. Di samping pula sejumlah ulama, di antaranya KH Zaenal Arifin Ma’soem, pengasuh Pondok Pesantren Fathul Huda Karanggawang Sayung. (Prokompim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *