Jo Kawin Bocah Ben Ora Stunting, Ajak Santri Perangi Stunting

Pemerintah Kabupaten Demak mempunyai berbagai kegiatan yang bertujuan untuk menekan kasus stunting difokuskan di 34 desa di Kabupaten Demak yang menjadi lokus stunting. Diantaranya dengan mengadakan kegiatan sarasehan “Jo Kawin Bocah Ben Ora Stunting” yang digelar di Pendopo Satya Bhakti Praja Kabupaten Demak, Minggu (22/10/2023).

“Berkat kerja keras, kerja cerdas, kerja tangkas, kerja ikhlas seluruh elemen masyarakat, di tahun 2022, angka prevalensi stunting Kabupaten Demak menjadi 16,2%. Turun sebanyak 9,3% dari yang semula 25,5% di tahun 2021,” tutur Bupati Demak dr. Hj. Eisti’anah, S.E. dalam sambutannya.

Acara tersebut di ikuti kurang lebih 500 santri yang turut di hadiri Sekda Prov Jateng Sumarno, S.E., MM.,  KaKanwil Prov. Jateng H. Musta’in Ahmad, S.H., M.H., serta narasumber oleh Hj. Nawal Arafah Yasin, dan dr. HRP Andri Putranto, M.Si.

Bupati Demak Eisti’anah pada kesempatan tersebut menyampaikan angka prevelensi stunting di tahun 2022 menurun.

“Prestasi ini sekaligus menjadikan Kabupaten Demak menjadi Kabupaten/Kota kedua di Jawa Tengah yang angka prevalensi nya turun paling banyak. Di tahun 2024 nanti, kita targetkan angka prevalensi stunting Kabupaten Demak di angka 11,16%,” terangnya.

Ia mengaku, keberhasilan yang telah dicapai serta target yang telah ditetapkan tidak akan tercapai tanpa upaya dan usaha seluruh elemen masyarakat. Kolaborasi dan sinergitas menjadi point penting dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Demak.

“Mereka yang berada di usia ini memiliki rasa ingin tahu yang cukup besar dan ingin coba-coba hal-hal baru. Maka sudah selayaknya mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang cukup tentang stunting, maupun kesehatan reproduksi sehingga mereka tidak gegabah dalam melangkah dan mengambil keputusan besar dalam hidupnya,” ungkap Bupati Eisti.

Sementara Sekda Provinsi Jawa Tengah, Sumarno menyampaikan, bahwa dampak dari stunting itu jangka panjang sehingga merupakan prioritas yang harus diselesaikan.

“Stunting sendiri penyebab awalnya salah satunya belum waktunya nikah dan melahirkan dalam kondisi tidak siap. Penyebab stunting lebih didominasi oleh perkawinan usia dini. Maka kita perlu mencegah kedepannya,” kata Sekda Sumarno.

Sekda Prov. menjelaskan bahwa jika untuk yang sudah stunting bisa melakukan upaya – upaya seperti memberikan asupan gizi.

Moment Hari Santri ini terasa pas, dimana jihad yang tadi diikrarkan bisa diterapkan dalam masalah stunting ini. Karena stunting ini masalah bangsa kita, maka kita berjihad untuk mencegah stunting.

“Salah satunya adalah jangan kawin dulu. Di mana di Islam itu sangat menghindari kemudhorot-an. Di mana nikah dini itu banyak mudharatnya. Jadi harus kita hindari, dengan apa? Dengan kecukupan usia, sebaiknya untuk usia menikah yaitu di atas 19 tahun. Ya usia 21 keatas ya persiapan untuk menikah hal ini tentu akan lebih baik dari segi kesehatan dan ekonomi di bandingkan dengan menikah di usia yang dini (belum cukup umur),” pungkasnya. (Prokompim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *